Assalammu'alaikum wr.wb. Alhamdulillah kita masih diberikan kesehatan oleh Allah swt. Nah, di sini saya akan berbagi sedikit review salah satu film Indonesia yaitu "Alangkah Lucunya (Negeri Ini)". Dalam penyusunannnya saya menggunakan urutan yang diajarkan di sekolah.
| Poster film Alangkah Lucunya (Negeri Ini) sumber : Wikipedia |
PENDAHULUAN
Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya. Film ini menampilkan warna-warni karakter bangsa Indonesia. Dimulai dari problematika sosial dalam mencari pekerjaan yang akan mengakar ke masalah-masalah lainnya. Masalah-masalah tadi perlahan mulai mendapat jalan keluar. Namun banyak ditentang oleh berbagai pihak. Muluk (Reza Rahadian) menjadi sorot utama dalam film ini. Muluk merupakan seorang sarjana manajemen yang sedang mencari pekerjaan dan akhirnya terlibat dalam kehidupan para pencopet cilik dan dipimpin oleh Jarot (Tio Pakusadewo).
EVALUASI
Film diawali oleh usaha-usaha yang dilakukan oleh Muluk untuk mendapatkan pekerjaan. Banyak penolakan yang ia dapatkan. Di tengah perjalanan ia melewati sebuah pasar dan menyaksikan sendiri kegesitan para pencopet dalam mengambil dompet pengunjung pasar. Muluk yang melihat kejadian itu lalu menyusul salah satu pencopet itu. Akhirnya ia dapatkan pencopet itu dan memintanya mengembalikan dompet yang dibawanya tadi. Merasa iba, Muluk membiarkan pencopet itu pergi.
Pak Makbul (Deddy Mizwar) yang tidak lain adalah Ayah Muluk sangat menginginkan anaknya mendapat pekerjaan. Di awal film, dia berdebat dengan Haji Sarbini (Jaja Miharja) tentang pentingnya pendidikan bagi kemajuan hidup pribadi maupun berbangsa bertanah air. Haji Sarbini yang tidak lain adalah calon mertua dari Muluk pun meragukannya yang sudah bergelar sarjana namun belum juga mendapat pekerjaan. Hatinya lebih condong memilih Jupri sebagai menantunya karena merupakan seorang calon anggota DPR.
Di sisi lain diceritakan pula tentang tokoh Pipit (Ratu Tika) yang hobinya mengikuti kuis interaktif di TV. Ayah Pipit (Slamet Rahardjo) selalu keheranan melihat sifat anaknya ini. Ibu Pipit tidak lain hanya seorang wanita lansia yang hobi bermain game siang dan malam.
Muluk bertemu lagi dengan pencopet yang ia temui di pasar secara tidak sengaja di salah satu tempat makan kumuh. Pencopet itu menawarkan beberapa menu makanan namun Muluk menolaknya. Akhirnya mereka berkenalan. Pencopet yang diketahui bernama Komet itu bercerita sedikit pengalaman mencopetnya. Komet membawa Muluk ke markas untuk bertemu dengan Jarot. Awalnya Jarot merasa berang atas kehadirannya. Tapi Muluk berhasil meyakinkannya untuk melakukan hubungan kerja sama antara pencopet dan sarjana manajemen, demi kelangsungan hidup.
Kabar tentang pekerjaan Muluk pun sampai ke telinga ayahnya. Muluk mengatakan bahwa ia mendapat posisi di Pengembangan Sumber Daya Manusia namun tidak dijelaskan dimana kantornya dan untuk siapa ia bekerja. Ia merasa khawatir suatu saat nanti pekerjaannya akan terbongkar oleh ayahnya.
Singkat cerita, Muluk mulai menjelaskan tujuannya dan kerja sama seperti apa yang ingin ia tawarkan. Muluk akan mengelola uang hasil mencopet ke bidang usaha lain, yaitu ngasong. Ia meminta sepuluh persen dari hasil mencopet untuk menggajinya. Jarot tidak merasa keberatan.
Suatu ketika, Muluk membawa uang hasil copet ke markas beserta tabungannya. Ia menjelaskan bahwa beberapa dari pencopet itu akan menjadi seorang pengasong. Seluruh pencopet mengeluh. Mereka berpendapat bahwa mengasong itu melelahkan dan hasilnya lebih sedikit daripada mencopet. Akhirnya ia menjelaskan ke Jarot. Jarot merasa marah dan ingin memukuli anak-anak itu, namun berhasil dicegah oleh Muluk. Jarot mengajak Muluk untuk berkunjung ke rumahnya dan bercerita sedikit tentang kehidupannya. Ternyata di luar dugaan Muluk, Jarot sebenarnya adalah orang yang baik. Di rumahnya terdapat lukisan Ka'bah. Ia menjelaskan bahwa ia merupakan pelindung anak-anak itu dan ia pun butuh pelindung. Karena itu ia memanfaatkan mereka untuk mencopet dan memberikan penghasilan kepadanya agar sama-sama diuntungkan. Ia rela penghasilannya berkurang karena ngasong asalkan anak-anak itu memiliki masa depan yang jelas.
Para pencopet ini tidak pernah sekalipun mengenyam pendidikan, kecuali Jarot. Karena itu, Muluk membawa temannya yang seorang Sarjana Pendidikan yaitu Samsul (Asrul Dahlan). Muluk juga membawa Pipit karena bisa mengajarkan ilmu agama. Awalnya memang berat untuk mendidik para pencopet ini, namun lambat laun mereka pun senang untuk belajar. Bahkan mereka sudah pandai berbagai hal tentang agama Islam dan Kewarganegaraan. Samsul menjulukinya "Pencopet yang religius dan pancasilais".
Apa yang dikhawatirkan oleh Muluk pun terjadi. Suatu hari para pencopet ini akan merayakan revolusi di antara mereka, yaitu dari pencopet menjadi pengasong. Ayah Muluk, Haji Sarbini, dan Haji Rahmat menyaksikan sendiri keadaan anak-anaknya bekerja. Wajah keheranan tampak jelas dipancarkan oleh mereka, kecuali Haji Rahmat. Setelah keluar dari markas, barulah Haji Rahmat menyadari bahwa penghasilan Pipit berasal dari uang haram, begitu pula Muluk dan Samsul. Sikap ketiga orangtua ini pun berubah. Ayah Muluk memisahkan kopi, gula, dan teh miliknya dengan milik Muluk agar tidak bercampur. Pada malamnya, Haji Rahmat pun pergi bersama ayah Muluk ke mushalla terdekat untuk memohon ampunan kepada Allah swt. atas kekhilafan anak-anaknya sambil menangis. Di sini Muluk, Pipit, dan Samsul menyaksikan sendiri betapa sedihnya mereka.
Samsul yang tidak peduli akan dosa mendesak Muluk agar tetap menjalankan usaha itu. Muluk menolak dengan tegas. Samsul pun marah dan menyindir para koruptor yang memiliki dosa lebih besar dibandingkan apa yang mereka lakukan. Suara amarah Samsul pun membangunkan para warga yang sedang tidur.
Di sisi lain diceritakan pula tentang tokoh Pipit (Ratu Tika) yang hobinya mengikuti kuis interaktif di TV. Ayah Pipit (Slamet Rahardjo) selalu keheranan melihat sifat anaknya ini. Ibu Pipit tidak lain hanya seorang wanita lansia yang hobi bermain game siang dan malam.
Muluk bertemu lagi dengan pencopet yang ia temui di pasar secara tidak sengaja di salah satu tempat makan kumuh. Pencopet itu menawarkan beberapa menu makanan namun Muluk menolaknya. Akhirnya mereka berkenalan. Pencopet yang diketahui bernama Komet itu bercerita sedikit pengalaman mencopetnya. Komet membawa Muluk ke markas untuk bertemu dengan Jarot. Awalnya Jarot merasa berang atas kehadirannya. Tapi Muluk berhasil meyakinkannya untuk melakukan hubungan kerja sama antara pencopet dan sarjana manajemen, demi kelangsungan hidup.
Kabar tentang pekerjaan Muluk pun sampai ke telinga ayahnya. Muluk mengatakan bahwa ia mendapat posisi di Pengembangan Sumber Daya Manusia namun tidak dijelaskan dimana kantornya dan untuk siapa ia bekerja. Ia merasa khawatir suatu saat nanti pekerjaannya akan terbongkar oleh ayahnya.
Singkat cerita, Muluk mulai menjelaskan tujuannya dan kerja sama seperti apa yang ingin ia tawarkan. Muluk akan mengelola uang hasil mencopet ke bidang usaha lain, yaitu ngasong. Ia meminta sepuluh persen dari hasil mencopet untuk menggajinya. Jarot tidak merasa keberatan.
Suatu ketika, Muluk membawa uang hasil copet ke markas beserta tabungannya. Ia menjelaskan bahwa beberapa dari pencopet itu akan menjadi seorang pengasong. Seluruh pencopet mengeluh. Mereka berpendapat bahwa mengasong itu melelahkan dan hasilnya lebih sedikit daripada mencopet. Akhirnya ia menjelaskan ke Jarot. Jarot merasa marah dan ingin memukuli anak-anak itu, namun berhasil dicegah oleh Muluk. Jarot mengajak Muluk untuk berkunjung ke rumahnya dan bercerita sedikit tentang kehidupannya. Ternyata di luar dugaan Muluk, Jarot sebenarnya adalah orang yang baik. Di rumahnya terdapat lukisan Ka'bah. Ia menjelaskan bahwa ia merupakan pelindung anak-anak itu dan ia pun butuh pelindung. Karena itu ia memanfaatkan mereka untuk mencopet dan memberikan penghasilan kepadanya agar sama-sama diuntungkan. Ia rela penghasilannya berkurang karena ngasong asalkan anak-anak itu memiliki masa depan yang jelas.
Para pencopet ini tidak pernah sekalipun mengenyam pendidikan, kecuali Jarot. Karena itu, Muluk membawa temannya yang seorang Sarjana Pendidikan yaitu Samsul (Asrul Dahlan). Muluk juga membawa Pipit karena bisa mengajarkan ilmu agama. Awalnya memang berat untuk mendidik para pencopet ini, namun lambat laun mereka pun senang untuk belajar. Bahkan mereka sudah pandai berbagai hal tentang agama Islam dan Kewarganegaraan. Samsul menjulukinya "Pencopet yang religius dan pancasilais".
Apa yang dikhawatirkan oleh Muluk pun terjadi. Suatu hari para pencopet ini akan merayakan revolusi di antara mereka, yaitu dari pencopet menjadi pengasong. Ayah Muluk, Haji Sarbini, dan Haji Rahmat menyaksikan sendiri keadaan anak-anaknya bekerja. Wajah keheranan tampak jelas dipancarkan oleh mereka, kecuali Haji Rahmat. Setelah keluar dari markas, barulah Haji Rahmat menyadari bahwa penghasilan Pipit berasal dari uang haram, begitu pula Muluk dan Samsul. Sikap ketiga orangtua ini pun berubah. Ayah Muluk memisahkan kopi, gula, dan teh miliknya dengan milik Muluk agar tidak bercampur. Pada malamnya, Haji Rahmat pun pergi bersama ayah Muluk ke mushalla terdekat untuk memohon ampunan kepada Allah swt. atas kekhilafan anak-anaknya sambil menangis. Di sini Muluk, Pipit, dan Samsul menyaksikan sendiri betapa sedihnya mereka.
Samsul yang tidak peduli akan dosa mendesak Muluk agar tetap menjalankan usaha itu. Muluk menolak dengan tegas. Samsul pun marah dan menyindir para koruptor yang memiliki dosa lebih besar dibandingkan apa yang mereka lakukan. Suara amarah Samsul pun membangunkan para warga yang sedang tidur.
Pasca terkuaknya status pekerjaannya, Muluk mulai
meninggalkan lingkungan para pencopet itu. Ia mengembalikan motor, buku
tabungan, dan aset lainnya kepada Jarot. Jarot pun berterima kasih karena sudah
banyak membantu.
Di markas ada enam kotak asongan, dimana tidak ada satupun
yang digunakan untuk mengasong. Muluk menitipkannya ke Komet. Jarot marah
kepada para pencopet yang disangkanya menjadi penyebab kepergian Muluk.
Para pencopet mulai sadar dan enam di antaranya mulai
mengasong. Mereka mencoba berjualan pertama kali di sebuah jalan raya dan
langsung bertemu dengan Muluk yang kala itu sedang latihan menyetir mobil. Raut
wajahnya menjadi senang seketika, namun berubah ketika melihat para petugas
satpol PP datang. Muluk menyuruh keenam pengasong itu untuk lari. Mereka pun
lari.
Muluk keluar dari mobil dan ikut mengejar mereka. Satu
diantaranya tertangkap, tapi usaha Muluk berhasil melepaskannya dari tangan dua
orang satpol PP. Muluk marah kepada mereka karena telah berbuat tidak manusiawi
kepada para pengasong itu. Akhirnya Muluk ditangkap atas dasar yang tidak
beralasan.
Film diakhiri dengan adegan Muluk dibawa menggunakan mobil
satpol PP. Para pengasong berteriak memanggilnya sambil menangis. Muluk yang
menyadari hal itu langsung melambaikan tangan kepada mereka dan tak
henti-hentinya mengacungkan jempol sambil menangis. Film ditutup dengan
pemaparan UUD 1945 Pasal 34 ayat (1)
INTERPRETASI
Film ini betul-betul
membuka pandangan kita tentang keadaan Indonesia di masa sekarang. Harkat,
martabat, dan kehormatan bangsa Indonesia sedang mengalami masa-masa krisis. Untuk
itulah film ini dibuat agar kita banyak bercermin tentang kehidupan bangsa kita
tercinta ini.
Pertama, sangat sulit mencari pekerjaan di Indonesia bahkan
bagi seorang sarjana sekalipun. Pada film ini jelas dipaparkan bagaimana Muluk
yang merupakan seorang lulusan manajemen tak kunjung mendapat pekerjaan
sehingga terbesit di pikirannya untuk beternak cacing. Namun pada akhirnya, ia
menjalin sebuah hubungan kerja sama dengan para pencopet cilik dan memakan gaji
dari uang haram yang diterimanya
Kedua, jelas sekali kita saksikan kehidupan orang-orang
miskin dan tidak berpendidikan di Indonesia masih sangat banyak. Kebanyakan anak
yang sudah yatim piatu dimanfaatkan untuk melakukan pekerjaan haram seperti
yang ditontonkan dalam film. Masih ada pula sifat-sifat premanialisme dalam
kehidupan masyarakat yang keras yaitu ketika Jarot didatangi oleh dua orang
berbadan besar yang diam-diam mengambil uang darinya.
Ketiga, tidak semua orang alim agama merupakan alim agama. Seperti
yang tampak pada film, haji Sarbini lebih terpikat terhadap Jupri (salah satu calon
menantunya) yang merupakan seorang calon anggota DPR dan memiliki laptop mahal.
Ia pun menyindir Muluk yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan masih pengangguran
dengan sindiran yang menyakitkan.
Keempat, orang berpendidikan dan paham agama tidak semuanya
baik. Di film ini jelas disindir keras para koruptor yang berkali-kali
disebutkan. Misalnya ketika Samsul marah kepada Muluk dan menyebut bahwa dosa
koruptor lebih besar daripada mencopet. Ada pula bagian ketika Samsul
menyebutkan pencopet yang berpendidikan itu disebut sebagai koruptor.
Kelima, masih adanya kasus penangkapan tak beralasan yang
dilakukan oleh pihak berwajib. Pada akhir cerita, diperlihatkan Muluk yang
digiring oleh satpol PP tanpa adanya alasan yang jelas. Padahal Muluk hanya
membela para pencopet yang baru saja mulai belajar mengasong.
Secara keseluruhan film ini sudah dibungkus dengan sangat
menarik dan alur cerita yang tidak jemu. Para aktor dan aktris sudah bisa
memainkan peran masing-masing dengan memainkan ekspresi wajah dan keseriusan
dalam mendalami tokoh yang diperankan. Tidak jarang pula kita menemukan adegan
yang bisa menciptakan gelak tawa. Penampilan para pencopet pun sudah sangat
baik dimana kerja sama sangat dibutuhkan dalam mengambil dompet demi dompet
dari setiap orang. Adegan paling menyedihkan dari film ini adalah ketika melihat
ekspresi wajah Muluk yang menangis sambil melambaikan tangan ke arah enam anak
pengasong dan diiringi oleh anak-anak SD yang lewat sambil mengibarkan bendera
merah putih kecil.
RINGKASAN
Film ini merupakan cerminan bagi bangsa Indonesia dan menjadi lampu kuning bagi masa depannya. Sebagai anak bangsa, kita harus berbenah dan mencari jalan keluar atas setiap masalah yang mewarnai kehidupan masyarakat, baik yang kuat maupun yang lemah, baik miskin maupun kaya. Karena itulah, film ini dinamakan "Alangkah Lucunya (Negeri Ini)".
Nah sekian dari saya. Lebih dan kurangnya mohon dimaafkan. Semoga bermanfaat. Wassalammu'alaikum wr.wb
Nah sekian dari saya. Lebih dan kurangnya mohon dimaafkan. Semoga bermanfaat. Wassalammu'alaikum wr.wb
Komentar
Posting Komentar